HMTL FT-UH | Jum’at, 20 Januari 2023 telah dilaksanakan Kajian Keilmuan I yang merupakan salah satu jobdesk dari Departemen Diklat, Profesi, dan Keilmuan BE HMTL FT-UH Periode 2022/2023. Kegiatan bertujuan untuk mewadahi dan memfasilitasi keilmuan dari anggota HMTL FT-UH terkhusus pada bidang yang menjadi pokok pembahasan di bidang Teknik Lingkungan. Kegiatan yang dilaksanakan melalui via Zoom Meeting ini dibawakan oleh Prof. Dr. Ir. Sarwoko Mangkoedihardjo, MScES, dosen dari Institut Teknologi Sepuluh November.

Dalam kegiatan yang di moderatori oleh Nurul Masyiah Rani Harusi, S.T, M.Eng ini mengambil tema Basis Kualitas Udara Untuk Mendesain Distribusi Ruang Terbuka Hijau.  Adapun ringkasan dari materi yang dibawakan sebagai berikut :

Respirasi adalah dasar dari kehidupan, dalam reaksi respirasi semua makhluk hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan melakukan reproduksi. Makhluk hidup yang bisa menangkap CO2 hanya tumbuhan dan waktunya pun terbatas. Ketika tumbuhan menangkap CO2  lalu digunakan dalam proses fotosintesis dan menghasilkan oksigen. Oksigen inilah yang kemudian membuat lingkungan menjadi aerobik.  Lingkungan yang aerobik dapat menekan nilai metana dan hal itu yang menjadikan salah satu fungsi RTH.

Komponen RTH

  1. Luasan, berdasarkan regulasi menggunakan persentase terhadap kota. Ada cara lain seperti berbasis dengan jumlah penduduk.
  2. Persebaran dan distribusi, dengan menggunakan pemetaan.

Lingkungan yang dihadapi

  1. Alamiah, disesuaikan terhadap komponennya, misal untuk fisik dari udara terhadap arah sinar matahari dan dari kimia biologis terhadap kualitas parametrik udara CO2,
  2. Binaan terhadap persebaran permukiman.

Fluks massa CO2, yang merupakan banyaknya CO2 yang lepas persatuan luas, saat siang hingga sore menurun dan naik ketika malam hingga pagi. Hal ini menunjukkan tumbuhan bekerja keras dan harus mampu menanggulangi CO2 yang lepas ke udara agar seluruh kehidupan dapat berlangsung karena hanya memiliki waktu setengah hari untuk mengoptimalkan daya kerja transpirasi mereka.

Penempatan titik sampling biasa disesuaikan dengan keadaan iklim, arah angin, topografi, dan keadaan lapangan daerah setempat. Faktor atau parameter ini sudah pasti berbeda-beda sehingga menjadikan sampling point tidak dapat disamakan di setiap daerah. Setiap titik membutuhkan waktu singkat untuk pengukuran. Pengukuran (replikasi) dilakukan 10x dengan waktu 6 detik pada setiap pengukuran.

Pada musim kemarau, respirasi terjadi semakin pekat dari malam hingga pagi yang pada peta menunjukkan zona merah, dan pagi hingga sore menunjukkan zona hijau karena normalnya RTH bekerja efisien pada waktu tersebut, tetapi akan bergantung kembali dari iklim. Karena pada musim penghujan, terjadi anomali kinerja RTH di mana malam hari berada pada zona hijau yang normalnya berwarna merah. Hal ini dapat terjadi karena ada beberapa daerah yang kekurangan RTH, yang menunjukkan seberapa pentingnya distribusi RTH yang rata di suatu daerah. Dalam kondisi normal CO2 kurang dari 400 ppm lebih dari itu perlu penanganan.

Musim kemarau dapat dijadikan acuan untuk persebaran RTH dan juga salah satu daerah yang dijadikan acuan adalah daerah perairan (persediaan badan air). Antara lingkungan alamiah dan lingkungan binaan akan terdapat kesamaan 95% persebaran RTH-nya.

Kontribusi RTH :

  1. Mengarahkan intensifikasi RTA berdasarkan peta merah
  2. Memiliki indikator pencemaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *