Akhir-akhir ini “Green Inflation” atau “Greenflation” menjadi topik yang hangat diperbincangkan oleh publik setelah debat antar cawapres yang dilaksakan pada Minggu, 21 Januari 2024. Namun , apa yang disebut dengan green inflation itu sendiri?

Menurut kompas.com, Greenflation adalah istilah yang mengacu pada kenaikan harga barang dan jasa akibat dari transisi kebijakan lingkungan yang bertujuan untuk mengurangi emisi karbon dan beralih ke energi terbarukan. Lalu, bagaimana Greenflation dapat terjadi? Menurut kompasiana.com, Greenflation dapat terjadi karena permintaan pasar yang tinggi untuk bahan mentah dan energi yang ramah lingkungan, sementara penawaran yang terbatas.

Transisi ke energi yang ramah lingkungan terjadi karena beberapa urgensitas, diantaranya:

  • Untuk mengurangi emisi karbon dan gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Pemanasan global dan perubahan iklim dapat menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya, seperti kenaikan permukaan air laut, bencana alam, penurunan produktivitas pertanian, penyebaran penyakit, dan konflik sosial.
  • Untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati yang terancam oleh polusi dan degradasi lingkungan akibat pembakaran bahan bakar fosil. Ekosistem dan keanekaragaman hayati memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan manusia, seperti menyediakan oksigen, air bersih, makanan, obat-obatan, dan jasa lingkungan lainnya.
  • Untuk meningkatkan kemandirian dan ketahanan energi nasional, mengingat ketersediaan dan harga bahan bakar fosil yang semakin menipis dan tidak stabil. Bahan bakar fosil juga dapat menimbulkan ketergantungan dan konflik antar negara, terutama yang memiliki cadangan dan produksi yang besar.
  • Untuk memanfaatkan potensi dan sumber daya energi terbarukan yang melimpah dan tersebar di berbagai wilayah, seperti matahari, angin, air, biomassa, dan panas bumi. Energi terbarukan memiliki keunggulan dibandingkan bahan bakar fosil, seperti tidak habis, tidak mencemari, dan lebih murah dalam jangka panjang.
  • Untuk mengikuti komitmen dan kesepakatan internasional tentang perubahan iklim, seperti Paris Agreement, yang menargetkan untuk menjaga agar pemanasan global tidak naik lebih dari 2 atau bahkan 1,5 derajat Celcius, dan mencapai net-zero emission (NZE) di 2050. Indonesia sebagai salah satu negara dengan emisi karbon terbesar di dunia, memiliki tanggung jawab dan peluang untuk berkontribusi dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Namun, Transisi ke energi hijau yang terbilang sangatlah baik ini tidak hanya berdampak positif saja, sehingga juga berdampak negatif baik itu ke masyarakat, ekonomi, maupun lingkungan. Berikut dampak yang dapat ditimbulkan:

  • Dampak positif:
    • Mengurangi emisi karbon dan gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.
    • Menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati yang terancam oleh polusi dan degradasi lingkungan.
    • Meningkatkan kualitas udara, air, dan tanah yang tercemar oleh pembakaran bahan bakar fosil.
    • Mendorong pengembangan teknologi dan inovasi yang lebih efisien, murah, dan bersih dalam bidang energi, transportasi, industri, dan pertanian.
    • Membuka peluang bisnis dan lapangan kerja baru yang berbasis ekonomi hijau atau ekonomi sirkuler.
  • Dampak negatif:
    • Menimbulkan Greenflation atau inflasi hijau yaitu kenaikan harga barang dan jasa akibat dari transisi kebijakan lingkungan yang bertujuan untuk mengurangi emisi karbon dan beralih ke energi terbarukan.
    • Mengganggu aktivitas ekonomi dan sosial yang masih bergantung pada bahan bakar fosil, seperti pertambangan, pembangkit listrik, transportasi, dan industri.
    • Memerlukan investasi dan modal yang besar untuk melakukan transisi energi, seperti membangun infrastruktur, mengembangkan teknologi, dan memberikan insentif dan subsidi.
    • Menyebabkan konflik dan ketidakadilan antara negara-negara maju dan berkembang dalam hal tanggung jawab, komitmen, dan kerjasama dalam mengatasi perubahan iklim.

Sebagai penutup, Greenflation adalah tantangan yang harus dihadapi oleh semua negara yang ingin mencapai pembangunan berkelanjutan dan melindungi lingkungan hidup. Maka dari itu, Greenflation membutuhkan kerjasama dan komitmen dari semua pihak, baik pemerintah, swasta, masyarakat, maupun kita sebagai mahasiswa terkhusus kita sebagai Mahasiswa Teknik Lingkungan untuk melakukan transisi hijau yang adil dan bertanggung jawab.

Sumber :

https://money.kompas.com/read/2024/01/21/235427726/apa-itu-green-inflation-yang-ditanyakan-gibran-ke-mahfud-md

https://www.kompasiana.com/dimas61s/65adc6a7c57afb014b49f732/apa-itu-green-inflation

https://bisnis.tempo.co/read/1824250/gibran-sebut-greenflation-apa-arti-dampak-dan-tantangannya-buat-indonesia

https://ekonomi.bisnis.com/read/20211121/9/1468529/menimbang-transisi-energi-hijau-antara-keselamatan-bumi-dan-laju-ekonomi

https://ekon.go.id/publikasi/detail/3353/transisi-energi-ciptakan-pembangunan-berkelanjutan-yang-ramah-lingkungan

https://theconversation.com/transisi-energi-di-indonesia-tiga-hal-yang-perlu-kamu-tahu-212691

https://ekon.go.id/publikasi/detail/3353/transisi-energi-ciptakan-pembangunan-berkelanjutan-yang-ramah-lingkungan
https://money.kompas.com/read/2024/01/21/235427726/apa-itu-green-inflation-yang-ditanyakan-gibran-ke-mahfud-md