Bedah Buku “Filosofi Teras”| Forum Ilmu Literasi

Tada tanggal 25 Juni 2020 telah dilaksanakan kegiatan Bedah Buku yang dimana kegiatan ini merupakan salah satu program kerja dari UKB Perpustakaan HMTL FT-UH Periode 2019/2020 melalui Google Meet. Buku yang akan dibedah kali ini adalah Filosofi Teras oleh Ir. Zulkarnain AS, ST., MT. yang dipandu oleh moderator Kanda Ferdy Trisetio.

Ir. Zulkarnain AS, ST., MT. sebagai pemater

Adapun resume yang didapatkan dari beda buku sebagai berikut:

Saat menyebut filsafat Yunani kuno, nama yang langsung terbit adalah Sokrates, Aristoteles dan Plato. Zeno rasanya terdengar asing. Filsafat juga identik dengan perenungan yang serba berat, abstrak, dan mengawang-awang. Bicara filsafat, biasanya membicarakan konsep-konsep abstrak seperti eksistensialisme, nihilisme, strukturalisme hingga post-strukturalisme. Menyembuhkan depresi dan stres dianggap bukan ranah filsafat.

Lebih dari 2.000 tahun lalu, sebuah mazhab filsafat menemukan akar masalah dan juga solusi dari banyak emosi negatif. Stoisisme, atau Filosofi Teras, adalah filsafat Yunani-Romawi kuno yang bisa membantu kita mengatasi emosi negatif dan menghasilkan mental yang tangguh dalam menghadapi naik-turunnya kehidupan. Jauh dari kesan filsafat sebagai topik berat dan mengawang-awang, Filosofi Teras justru bersifat praktis dan relevan dengan kehidupan Generasi Milenial dan Gen-Z masa kini.

Bagi para ahli filsafat Yunani dan Hellenistik, ajaran Platonisme, Aristotelisme, Sinisme, Epikurisme, dan filsafat Stoa sering disebut sebagai aliran-aliran yang mengajarkan jalan hidup. Mereka memang aliran filsafat tapi bukan dalam arti cara berpikir ruwet dan tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Filsafat Stoa mengusung kebahagiaan yang tidak lazim. Mereka mengatakannya sebagai ataraxia, sebuah kata Yunani yang akarnya dari ataraktos [a = not, dan tarassein = to trouble]. Ataraxia demikian berarti not troubled. Kebahagiaan  yang kita bayangkan sebagai jiwa yang tenang dan damai digambarkan oleh kaum Stoa sebagai situasi negative “tiadanya gangguan”. Bahagia adalah saat tidak terganggu.

Filsafat bagi kaum Stoa bukanlah untuk sekedar mengisi waktu atau menumpuk ide untuk bergaya di depan kaum awam. Filsafat adalah praktik dan latihan [askesis], sebuah seni hidup. Di mata Stoa, bahagia itu sederhananya adalah manakala kita terbebaskan dari emosi atau segala rasa perasaan yang mengganggu. Orang Yunani menyebutnya pathos [dari kata kerja paskhein, artinya mengenai atau menderita sesuatu].

Peserta yang mengikuti acara bedah buku “Filosofi Teras”
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *