Kajian Muslim dan Muslimah

Kajian Muslimah 17 Mei 2019

Judul : 10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan

Ada banyak keistimewaan yang terdapat pada 10 hari terakhir pada bulan ramadhan, salah satunya adalah lailatul qadar. Malam Lailatul qadar merupakan malam yang istimewa dan lebih baik dari 1000 bulan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari pada seribu bulan. Para malaikat dan ar-Ruh (Jibril) turun dengan izin Rabb-nya untuk mengurus setiap urusan. Keselamatan pada malam itu hingga terbit fajar.” (QS. Al-Qadr (97) : 1-5)

Itulah sebabnya mengapa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam jauh lebih semangat dalam beribadah ketika memasuki 10 malam terakhir bulan Ramadhan dalam rangka mencari lailatul qadar.

Pekan ini Departemen Kerohanian HMTL FT-UH mengadakan agenda rutin kajian jum’at muslimah dengan judul “10 Hari Terakhir Bulan Ramadhan”. Kegiatan ini dilaksanakan pada jum’at, 17 Mei 2019.

Pemateri kegiatan ini berasal dari pihak Al-Muhandis. Dalam pemaparannya pemateri menjelaskan terkait memaksimalkan ibadah dalam 10 hari terakhir bulan ramadhan. Ada beberapa amalan yang dapat dilakukan dalam mengisi 10 hari terakhir bulan ramadhan yakni :

  • I’tikaf di masjid, yakni berdiam diri di masjid dengan melakukan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, seperti shalat, berdoa, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan beristigfar. Sebagaimana hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ber-i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri beliau ber-i’tikaf setelah itu.” (HR. Al-Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).

  • Qiyamul Lail, yakni bersungguh-sungguh dalam shalat malam, memperlama shalat dengan memperpanjang berdiri, ruku’, dan sujud.
  • Membaca Al-Qur’an, karena ramadhan merupakan waktu turunnya Al-Qur’an. Dan juga terdapat 10 kebaikan dalam setiap huruf Al-Qur’an yang kita baca
  • Shadaqah, amalan ini menjadi salah satu yang dianjurkan ketika bulan ramadhan.
  • Memperbanyak Do’a, karena ketika do’a tersebut bertepatan dengan lailatul qadar maka akan dikabulkan.
  • Bertaubat dan istigfar, karena bulan ramadhan merupakan bulan ampunan maka perbanyak beristigfar dan bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Setelah mengetahui tentang ibadah-ibadah yang dapat kita lakukan pada 10 malam terakhir bulan ramadhan, maka langkah selanjutnya adalah mengamalkannya.

Kajian Muslimah 5 Juli 2019

Judul : Menghadirkan Ikhlas Dalam Beribadah

Menuntut ilmu agama merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim maupun muslimah. Ilmu dapat dikatakan sebagai sarana dalam melaksanakan segala sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan terhadap hambanya. Keislaman seseorang tidaklah cukup hanya di lisan saja tanpa memahami agama islam dengan benar dan mengamalkannya. Dan pengamalan tersebut tentunya membutuhkan ilmu. Saat ini, banyak dari kita yang menyepelekan kewajiban dalam menuntut ilmu agama, padahal para penuntut ilmu memiliki banyak keutamaan.

“Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Hadits di atas menerangkan salah satu keutamaan bagi para penuntut ilmu. Dengan mengamalkan ilmu yang dimiliki menjadi sebab Allah mudahkan langkahnya menuju surga. Bagi muslimah, menuntut ilmu tetap menjadi suatu keharusan. Seorang muslimah akan tetap terikat dengan kewajibannya sebagai pemeluk agama islam, serta kewajiban yang terkait kedudukannya sebagai muslimah. Muslimah juga memegang peranan penting dalam mencetak generasi yang cerdas. Wanita yang tumbuh dalam kebodohan, akan melahirkan generasi yang lemah akal. Itulah mengapa pentingnya bagi para muslimah menghadiri majelis ilmu. Maka dari itu Departemen Kerohanian HMTL FT-UH mengadakan kegiatan rutin, yakni kajian jum’at muslimah yang dilaksanakan setiap hari jum’at. Diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan pemahaman ilmu agama islam muslimah HMTL FT-UH.

Acara ini telah dilaksanakan pada jum’at 5 juli 2019 bertempat di Sekretariat HMTL FT-UH, Gedung Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin yang dihadiri oleh anggota muslimah HMTL FT-UH.

Materi yang disampaikan pada kegiatan ini berjudul “menghadirkan ihklas dalam beribadah”. Dalam pemaparannya, pemateri menyampaikan pentingnya ikhlas dalam setiap amal perbuatan yang dilakukan. Setiap amal ibadah yang dilakukan harus semata-mata ikhlas karena Allah, bukan karena ingin terlihat baik di mata manusia. Setiap amalan yang terdapat riya’ di dalamnya maka amalan tersebut tertolak. Tanda orang-orang yang ikhlas adalah melupakan kebaikan yang pernah dilakukan sebelumnya serta perasaan bila dipuji atau dicela apabila melakukan kebaikan tetap sama. Setiap amalan yang dilakukan dengan benar-benar memurnikan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka balasannya ada surga.

Semoga dengan kegiatan ini mampu menambah ilmu dan wawasan agama islam serta meningkatkan minat bagi pada muslimah dalam menghadiri majelis ilmu.

Kajian Muslimah 9 Agustus 2019

Judul : Amalan-Amalan di Bulan Dzulhijjah

Bulan dzulhijjah menjadi salah satu bulan yang dimuliakan dalam islam, sebagaimana firman Allah subhanahu Wa Ta’ala :

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa” (Qs. At Taubah (9) : 36)

Amalan-amalan yang dilakukan pada bulan dzulhijjah memiliki keutamaan yang besar, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam :

“Tidak ada hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (10 awal Dzulhijjah –pen).” Para sahabat bertanya: “Apakah lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah ?” Beliau bersabda, “Iya. Lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi (mati syahid –pen)” (HR. Al Bukhari)

Lantas amalan apa saja yang dapat kita lakukan di awal bulan dzulhijjah ini ? untuk mengetahui lebih lanjut mengenai hal tersebut, pekan ini Departemen Kerohanian HMTL FT-UH kembali mengadakan kajian jum’at muslimah dengan judul “Amalan-Amalan di Bulan Dzulhijjah”. Kegiatan ini dilaksanakan pada 9 agustus 2019, bertempat di sekretariat HMTL FT-UH.

Pemateri kegiatan ini berasal dari pihak Al-Muhandis. Dalam pemaparannya pemateri menjelaskan terkait amalan-amalan yang dapat dilakukan di 10 hari pertama bulan dzulhijjah. Dikarenakan keutamaannya yang banyak maka amalan shalih pada bulan ini diberi ganjaran yang luar biasa. Diantara amal-amal tersebut adalah :

  • Berdzikir, yakni memperbanyak takbir, tahlil, dan tahmid. Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Maka perbanyaklah di hari-hari tersebut dengan tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad, Shahih)

  • Puasa, di samping anjuran melakukan puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, maka disukai juga untuk memperbanyak puasa di hari-hari sebelumnya (dari tanggal 1 sampai dengan 8 Dzulhijjah)
  • Membaca Al-qur’an, alangkah baiknya jika pada 10 hari tersebut kita dapat mengkhatamkan Al-qur’an.
  • Sedekah, di antara yang menunjukkan keutamaan bersedekah adalah cita-cita seorang yang sudah melihat ajalnya di depan mata, bahwa jika ajalnya ditangguhkan sebentar saja, maka kesempatan itu akan digunakan untuk bersedekah.
  • Berkurban, Kurban adalah ibadah yang disyari’atkan setahun sekali dan dilaksanakan di bulan Dzulhijjah.
  • Haji, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Haji itu pada bulan-bulan yang tertentu.” (Qs. Al Baqarah (2) : 197)

Yang dimaksudkan dengan haji dalam ayat di atas adalah ihram untuk haji bisa dilaksanakan dalam bulan-bulan yang sudah ditentukan, yaitu: Syawwal, Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Selain bulan-bulan tersebut, maka ihram seseorang untuk haji tidak sah.

Setelah mengetahui tentang amalan-amalan tersebut tentu langkah selanjutnya adalah mengamalkannya. Semoga dengan kegiatan ini mampu memberikan pemahaman dan motivasi bagi kita dalam meraih keutamaan dalam bulan dzulhijjah.

Kajian Muslimah 23 Agustus 2019

Judul : Ikhlas Kunci Segala Hal

Segala perbuatan tentunya disertai niat didalamnya. Dan balasan bagi setiap amal bergantung pada niatnya, sebagaimana sabda Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam :

Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Setiap amalan yang tidak diniatkan karena Allah , maka amalan tersebut adalah sia-sia. Banyaknya pahala atau sedikitnya pun tergantung dari niat. Inilah alasan mengapa ikhlas karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadi kunci keberhasilan dari setiap amal baik yang dikerjakan.

Pekan ini Departemen Kerohanian HMTL FT-UH kembali mengadakan agenda rutin kajian jum’at muslimah dengan judul “Ikhlas Kunci Segala Hal”. Kegiatan ini dilaksanakan pada jum’at, 23 agustus 2019 yang bertempat di Sekretariat HMTL FT-UH.

Pemateri kegiatan ini berasal dari pihak Al-Muhandis. Dalam pemaparannya pemateri menjelaskan terkait menghadirkan ikhlas dalam setiap amal perbuatan. Ikhlas menjadi salah satu syarat utama diterimanya sebuah amalan. Segala amalan yang kita perbuat akan bernilai pahala di sisi Allah jika amalan tersebut diniatkan semata-mata karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika kita memulai aktivitas sehari-hari seperti bekerja, sekolah, kuliah atau bahkan menghadiri majelis ilmu jika tidak diniatkan karena Allah semata maka aktivitas itu tidak bernilai atau sia-sia. Tidak ada pahala yang hadir karenanya. Amalan hati merupakan hal yang sulit untuk dilakukan, namun kita harus tetap mengusahakannya. Salah satu perkara yang dapat merusak ikhlas adalah riya’, yakni melakukan ibadah karena sebab ingin dilihat oleh orang lain. Hal seperti ini sering kita jumpai. Seseorang yang ketika menjadi imam sholat, bacaan sholatnya jauh lebih bagus dibanding saat ia sholat sendiri. Dikarenakan ingin terlihat bagus oleh orang lain. Hal seperti ini dapat jatuh pada syirik kecil. Tentunya kita tidak ingin ibadah yang dengan susah payah kita kerjakan selama ini tidak menghadirkan pahala sama sekali dikarenakan riya’. Selalu berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar kita senantiasa berlaku ikhlas, serta meninjau kembali niat kita dalam melakukan segala amal perbuatan.

Semoga dengan kegiatan ini mampu memberikan pemahaman bagi kita akan pentingnya ikhlas dalam setiap amal perbuatan.

Kajian Muslimah 30 Agustus 2019

Judul : Tahu Adabnya, Berlipat Pahalanya

Al-Qur’an adalah Kalamullah yang berisi petunjuk dan jalan hidup terhadap seluruh umat manusia dalam mencapai keselamatan di dunia dan di akhirat. Itulah mengapa tidak ada ilmu yang lebih utama dipelajari melainkan Al-Qur’an. Sebagaimana sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam,

“Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Dikarenakan Al-Qur’an merupakan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka tidaklah boleh membacanya seperti membaca koran atau buku pada umumnya. Terdapat cara dan adab-adab yang patut dipahami dalam membaca Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an dengan adab dan etika yang baik menjadi salah satu cara memuliakan Al-Qur’an.

Dengan tujuan untuk memberikan pemahaman lebih lanjut mengenai adab-adab membaca Al-Qur’an kepada anggota HMTL FT-UH, maka Departemen Kerohanian HMTL FT-UH kembali mengadakan agenda rutin kajian jum’at muslimah dengan judul “Tahu Adabnya, Berlipat Pahalanya”. Kegiatan ini dilaksanakan pada jum’at, 30 agustus 2019 yang bertempat di Sekretariat HMTL FT-UH.

Pemateri kegiatan ini berasal dari pihak Al-Muhandis. Dalam pemaparannya pemateri menjelaskan bahwa adab merupakan sesuatu yang sangat penting. Seseorang tidak dikatakan berperilaku baik jika tidak beradab. Pentingnya beradab dalam membaca Al-Qur’an merupakan bentuk pengagungan terhadap Al-Qur’an. Adab terhadap Al-Qur’an terbagi menjadi dua yakni, adab dalam membaca Al-Qur’an dan adab terhadap mus’haf  Al-Qur’an. Adab membaca Al-Qur’an diantaranya adalah :

  • Ikhlas
  • Mulut dalam keadaan bersih
  • Membaca dalam keadaan suci
  • Tempat yang bersih
  • Menghadap kiblat
  • Memulai dengan membaca ta’awuz
  • Membaca basmalah di awal surah
  • Membaca dalam keadaan khusu’
  • Membaca dengan tartil dan membaguskan suara.

Sedangkan adab terhadap mus’haf Al-Qur’an diantaranya adalah :

  • menempatkan Al-Qur’an pada posisi atas atau tidak sejajar dengan kaki
  • bukan hanya sekedar pajangan
  • dan tidak membawa Al-Qur’an ke tempat yang kotor.

Setelah mengetahui tentang adab-adab tersebut tentu langkah selanjutnya adalah mengamalkannya. Semoga dengan kegiatan ini mampu memberikan pemahaman bagi kita akan pentingnya adab terhadap Al-Qur’an dan mengamalkannya.

Kajian Muslimah 6 september 2019

Judul : Lihatlah Siapa Teman Dekatmu

Teman bergaul ibarat cerminan dari diri seseorang. Segala pengaruh baik ataupun buruk dapat berasal dari teman. Islam sebagai agama yang sempurna telah mengatur batasan bergaul bagi kita. Pergaulan memberikan pengaruh yang besar bagi kehidupan seseorang. Bergaul dengan teman yang buruk dapat menjerumuskan kita pada keburukan, sedangkan bergaul pada teman yang shalih dapat mendekatkan kita pada perbuatan-perbuatan baik.

Pekan ini Departemen Kerohanian HMTL FT-UH kembali mengadakan agenda rutin kajian jum’at muslimah dengan judul “lihatlah siapa teman dekatmu”. Kegiatan ini dilaksanakan pada jum’at, 6 september 2019 yang bertempat di Sekretariat HMTL FT-UH.

Pemateri kegiatan ini berasal dari pihak Al-Muhandis. Dalam pemaparannya pemateri menjelaskan terkait pentingnya melihat siapa yang menjadi teman dekat kita. Teman memiliki pengaruh yang cukup besar bagi perilaku kita. Teman yang shalih akan senantiasa mengajak kita pada kebaikan dan menjadi pengingat bagi kita saat hendak berbuat maksiat, namun teman yang buruk akan senantiasa mengajak kita pada perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bahkan kemaksiatan. Pemisalan teman yang baik dan yang buruk sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam yakni :

Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Dalam hadits di atas menjadi perumpamaan pengaruh teman yang shalih dan teman yang buruk. Bergaul dengan teman yang shalih dapat mendatangkan banyak kebaikan. Dengan akhlak dan ilmu agama yang benar ia akan senantiasa mengajak kita pada kebaikan seperti mengajak kita untuk menghadiri majelis ilmu, menegur kita saat berbuat salah, serta mengajarkan hal-hal yang bermanfaat. Teman juga dapat menjadi cerminan bagi agama seseorang, sebagaimana sabda Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam :

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Memilih teman yang buruk mengakibatkan rusaknya agama seseorang. Jangan sampai di akhirat kelak kita menyesal telah bergaul dengan kawan yang buruk. Menyianyiakan waktu kita di dunia dengan hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan kemaksiatan.

Semoga setelah diadakannya kegiatan ini dapat memberikan pemahaman bagi akan pentingnya memilih teman bergaul yang akan senantiasa mengajak kita pada kebaikan.

Kajian muslimah 13 september 2019

Judul : Hak Sesama Muslim

Islam merupakan agama yang mengatur segala hal dalam kehidupan kita mulai dari hal kecil hingga hal besar, termasuk di dalamnya  sikap terhadap sesama muslim. Kecintaan terhadap sesama muslim menjadi hal yang penting dalam menguatkan tali persaudaraan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.

“Permisalan kaum mukminin dalam sikap saling mencintai, dan saling kasih sayang mereka sebagaimana satu badan. Apabila satu anggota badan sakit, seluruh anggota badan ikut merasakan, dengan tidak bisa tidur dan demam” ( HR Muslim dari sahabat Nu’man bin Basyir)

Dalam mewujudkan persaudaraan yang baik antar sesama muslim maka ada hak-hak yang harus dipenuhi oleh seorang muslim atas muslim yang lainnya. Setiap muslim wajib memenuhi hak saudaranya sesama muslim dengan tidak berlebihan ataupun mengurangi. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk berbuat adil.

Pekan ini Departemen Kerohanian HMTL FT-UH kembali mengadakan agenda rutin kajian jum’at muslimah dengan judul “Hak Sesama Muslim”. Kegiatan ini dilaksanakan pada jum’at, 13 september 2019 yang bertempat di Sekretariat HMTL FT-UH.

Pemateri kegiatan ini berasal dari pihak Al-Muhandis. Dalam pemaparannya pemateri menjelaskan terkait hak seorang muslim atas muslim lainnya. Seorang muslim berhak atas 6 hal dari saudara muslimnya diantaranya adalah :

  • Jika bertemu maka ucapkanlah salam. Salam merupakan doa, dengan mengucapkan salam kepada saudara kita berarti telah mendoakan kebaikan kepada saudara kita
  • Jika dia mengundangmu, maka datanglah. Apabila kita memenuhi sebuah undangan maka tentunya yang mengundang akan merasa senang.
  • Jika dia meminta nasehat kepadamu maka berilah nasehat. Walaupun kita merasa bahwa ilmu yang kita miliki masih sangatlah sedikit, kita tetap harus berusaha memberi nasihat jika ada yang meminta.
  • Jika dia bersin lalu mengucapkan Alhamdulillah maka doakanlah. sebagai mana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Jika salah seorang dari kalian bersin, hendaknya ia mengucapkan الحمدلله (Segala puji bagi Allah), sedangkan yang mendengarnya mengucapkan يرحمك الله (Semoga Allah merahmatimu), lalu membalas dengan ucapan  يهديكم الله و يصلح بالكم ( Semoga Allah memberimu petunjuk dan memperbaiki urusanmu). (HR Bukhari).
  • Jika dia sakit maka jenguklah. Menjenguk orang yang sedang sakit akan memberikan efek yang baik terhadap kesembuhannya, maka dari itu dianjurkan untuk menjenguk saudara muslim kita yang sedang sakit.
  • Jika ia meninggal maka iringilah jenazahnya. Iringilah dari rumah atau tempat ia disholatkan hingga ke pemakaman.

Itulah keenam hak seorang muslim atas muslim lainnya. Setelah memahami hak-hak tersebut semoga tali persaudaraan terhadap rekan semuslim kita menjadi lebih baik dengan mengamalkan hal tersebut.

Kajian muslimah 20 September 2019

Judul : Sebaik-baik Bekal Adalah Takwa

Setiap manusia memiliki kedudukan yang berbeda-beda di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’Ala. Salah satu hal yang membedakan kedudukan seseorang di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’Ala adalah sesuai dengan tingkat ketakwaannya. Imam An-Nawawi mendenifisikan takwa dengan “Menta’ati perintah dan laranganNya. Karena itu siapa yang tidak menjaga dirinya dari perbuatan dosa, berarti dia bukanlah orang yang bertaqwa.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Hai, orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam” (QS. Ali ‘Imran (3) : 102).

Bukan hal mudah mewujudkan takwa yang hakiki, kecuali orang-orang yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala. Sesungguhnya takwa merupakan amalan hati bukan sekedar yang tampak pada diri seseorang. Namun Tentunya setiap dari kita haruslah berusaha menjadi manusia yang bertakwa.

Pekan ini Departemen Kerohanian HMTL FT-UH kembali mengadakan agenda rutin kajian jum’at muslimah dengan judul “Sebaik-baik Bekal Adalah Takwa”. Kegiatan ini dilaksanakan pada jum’at, 20 september 2019.

Pemateri kegiatan ini berasal dari pihak Al-Muhandis. Dalam pemaparannya pemateri menjelaskan terkait pengaruh takwa terhadap kehidupan seorang muslim. Allah memberikan berbagai kemudahan dalam hidupnya bagi orang yang bertakwa diantaranya adalah jalan keluar dalam setiap masalah dan datangnya rezeki dari arah yang tidak diduga-duga. Sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam QS. At-Talaq (65) : 2-3 yang berbunyi “ Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. Bentuk konkrit dari takwa adalah menjalankan segala perintah Allah dan mengamalkan sunnah. Ciri-ciri orang yang bertakwa ,yakni selalu melibatkan Allah dalam setiap urusannya serta mampu membedakan yang baik dan yang buruk.

Setelah mengetahui lebih mendalam tentang takwa, tentunya hal ini memotivasi kita semua untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu Wa Ta’ala.

Kajian Muslimah 27 September 2019

Judul : CCTV Kehidupan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala merupakan Dzat yang maha mengawasi segala perbuatan hamba-Nya. Tak ada sedikit pun yang luput dari pengawasan-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya :

Dan Allâh Maha mengawasi segala sesuatu”. (QS. Al-Ahzab (33) : 52).

Sikap seorang hamba yang selalu merasa diawasi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala disebut Muraaqabatullah. Sikap Muraaqabatullah ini seolah menjadi alarm pengingat bagi seorang hamba ketika hendak berbuat maksiat bahwa Allah Ta’ala senantiasa melihat segala perbuatannya. Sikap ini merupakan amalan hati yang sulit untuk dilakukan. Namun dengan sikap ini akan mejadikan hati dan perbuatan kita terjaga dari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah Ta’ala.

Pekan ini Departemen Kerohanian HMTL FT-UH kembali mengadakan agenda rutin kajian jum’at muslimah dengan judul “CCTV Kehidupan”. Kegiatan ini dilaksanakan pada jum’at, 27 september 2019 yang bertempat di Sekretariat HMTL FT-UH.

Pemateri kegiatan ini berasal dari pihak Al-Muhandis. Dalam pemaparannya pemateri menjelaskan terkait sikap Muraaqabatullah dan istiqomah dalam beribadah.  Materi kajian dibuka dengan membacakan Al-Qur,an Surah Ar-Ra’d ayat 10 yang artinya : “Sama saja (bagi Tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri di siang hari)”. Ayat di atas menerangkan bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala perkara yang dilakukan oleh hambanya baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Dalam kehidupan kita diandaikan seolah-olah ada sebuah kamera CCTV pengawas yang merekam segala perbuatan kita, yakni Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang senantiasa mengawasi kita. Menurut para ulama Muraaqabatullah terbagi menjadi tiga unsur yakni :

  • Menghadirkan sifat Muraaqabatullah sebelum mengerjakan sebuah amal yakni, apakah perbuatan yang dilakukan dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala atau tidak.
  • Selalu menghadirkan rasa ikhlas karena Allah dalam setiap perbuatan.
  • Senantiasa berharap agar amalan kita diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Kelak segala perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Perbuatan sekecil apapun itu akan dihisab dan diperlihatkan di akhirat kelak. Inilah pentingnya bagi kita untuk selalu merasa diawasi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar menjadi benteng bagi diri kita dari maksiat. Dalam menghadirkan sifat Muraaqabatullah penting bagi kita untuk istiqomah dalam beribadah. Ketika kita senantiasa istiqomah dalam melakukan suatu amalan maka Allah akan melindungi kita dan memudahkan kita untuk melakukan amalan lainnya.

Itulah rincian pembahasan mengenai sikap muraaqabatullah dan istiqomah dalam beribadah. Semoga setelah diadakannya kajian ini memotivasi kita agar lebih semangat lagi dalam menghadiri majelis ilmu.

Kajian Muslimah 4 Oktober 2019

Judul : Pengaruh Media Terhadap Budaya dan Kehidupan Manusia

Salah satu bentuk modernitas yang dapat kita jumpai saat ini adalah kemudahan akses informasi baik itu dari media cetak, digital, dan internet. Islam sendiri adalah agama yang tidak membatasi diri dengan perkembangan zaman, namun tetap mampu memfilter segala sesuatu agar tidak melenceng dari ajaran islam, yakni Al-Qur’an dan As-sunnah. Salah satu media yang memegang peranan penting saat ini adalah media sosial. Dengan kebebasan akses informasi melalui media sosial secara tidak langsung berpengaruh terhadap perilaku dan kehidupan umat islam. Setiap orang dapat dengan bebasnya mengakses dan menyebarkan informasi yang belum pasti kebenarannya. Akibatnya timbullah berbagai berita yang tidak benar dan dipercaya oleh masyarakat. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan :

“Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta apabila dia mengatakan semua yang didengar.” (HR. Muslim no.7)

Kita dianjurkan untuk tidak tergesa-gesa dalam menyebarkan suatu informasi, dan meneliti kebenaran dari informasi tersebut.

Pekan ini Departemen Kerohanian HMTL FT-UH kembali mengadakan agenda rutin kajian jum’at muslimah dengan judul “Pengaruh Media Terhadap Budaya dan Kehidupan Manusia”. Kegiatan ini dilaksanakan pada jum’at, 4 oktober 2019.

Pemateri kegiatan ini berasal dari pihak Al-Muhandis. Dalam pemaparannya pemateri menjelaskan terkait sikap kita dalam menggunakan media informasi. Penggunaan media informasi terutama media sosial tergantung pada yang menggunakannya untuk kebaikan atau keburukan. Contoh dari penggunaan media sosial dalam kebaikan adalah sebagai sarana komunikasi, dakwah, menyebarkan informasi yang bermanfaat dan jelas kebanarannya, serta masih banyak lagi. Sedangkan contoh dari penggunaannya dalam keburukan adalah menyebarkan hoax, sarana ghibah, berkhalwat dengan lawan jenis yang bukan mahrom, pornografi, serta masih banyak lagi. Media berperan penting dalam mempengaruhi mindset masyarakat. Kebanyakan dari masyarakat akan langsung menerima secara mentah segala informasi yang tersebar di media sosial, jika yang disebarkan itu hal yang tidak benar maka akan menimbulkan fitnah dan kekacauan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya :

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabnya” (QS. Al-‘Isra’ (17) : 36)

Media informasi bisa menjadi ladang pahala maupun ladang dosa bagi penggunanya. Sering sekali kita lihat saat ini kebanyakan dari pengguna media sosial cenderung sibuk menunjukkan kesehariannya yang tidak ada manfaatnya. Apa yang kita sebar di media sosial bisa saja menjadi cerminan dari diri kita. Kita bisa menggunakan media sosial dengan lebih bijak salah satunya sebagai media dakwah. Namun untuk menjadi sarana dakwah pun kita harus tetap berhati-hati agar yang kita sebar tidak melenceng dari ajaran islam, yakni Al-Qur’an dan As-sunnah.

Itulah rincian pembahasan mengenai pengaruh media terhadap budaya dan kehidupan manusia.  Semoga setelah diadakannya kajian ini menjadikan kita lebih bijak lagi dalam menggunakan media sosial. Apa yang kita sebar di media sosial semoga menjadi ladang pahala dan bukanlah ladang dosa.

Kajian Muslimah 11 Oktober 2019

Judul : Pahami Ilmunya dan Amalkan

Seseorang yang ingin melaksanakan sholat tentunya tidak serta merta langsung mengerjakannya tanpa dasar ilmu yang benar. Bagaimana bacaan sholat dan gerakan sholat yang benar sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Mengapa demikian ? tentunya agar ibadah yang dikerjakan itu diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Inilah salah satu perumpamaan pentingnya berilmu sebelum beramal, dikarenakan rasa kekhwatiran kita ibadah yang dikerjakan itu sah atau batal. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya :

“Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui” (QS. Al-‘Anbiya’ (21) : 7)

Banyak dari umat islam saat ini yang menyepelekan ilmu agama, terutama pada perkara ibadah wajib. Itulah sebabnya kita diwajibkan untuk menuntut ilmu agama, agar segala aktivitas kita di dunia berdasar atas dalil dan sesuai dengan Al-Qur’an dan As-sunnah.

Pekan ini Departemen Kerohanian HMTL FT-UH kembali mengadakan agenda rutin kajian jum’at muslimah dengan judul “Pahami Ilmunya dan Amalkan”. Kegiatan ini dilaksanakan pada jum’at, 11 oktober 2019, bertempat di sekretariat HMTL FT-UH

Pemateri kegiatan ini berasal dari pihak Al-Muhandis. Dalam pemaparannya pemateri menjelaskan terkait pentingnya menuntut ilmu agama dan mengamalkannya. Ilmu adalah mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya. Berkata Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhu bahwa ilmu itu ada 3, yakni kitab yang berbicara (Al-Qur’an), sunnah yang berlaku, dan perkataan saya tidak tahu. Ilmu yang dimaksudkan dalam hal ini adalah ilmu agama. Ibnul Qayyim berkata bahwa ilmu adalah Allah berfirman, rasul bersabda, dan sahabat berkata. Para sahabat dahulu memiliki semangat dan perjuangan yang luar biasa dalam menuntut ilmu walaupun dengan keterbatasan akses informasi yang dimiliki. Sangat berbeda dengan kita di jaman sekarang ini yang dapat dengan mudah mengakses ilmu baik dari media cetak maupun online. Dalam Al-Qur’an Surah Ali-‘Imran yang artinya :

“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana” (QS. Ali-‘Imran (3) : 18)

Dalam ayat tersebut Allah mempersandingkan kalimat tauhidnya dengan orang yang berilmu. Orang yang berilmu derajatnya lebih tinggi dari ahli ibadah. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

Hadits di atas menunjukkan salah satu keutamaan bagi orang yang berilmu. Mengajarkan ilmu pada orang lain bisa menjadi salah satu amal jariyah bagi kita disebabkan ketika orang tersebut mengamalkannya maka kita akan mendapat pahala yang serupa. Namun ilmu yang kita sampaikan ini haruslah benar adanya dan tidak melenceng dari Al-Qur’an dan As-sunnah.

Itulah rincian pembahasan mengenai pentingnya menuntut ilmu agama dan mengamalkannya.  Semoga setelah diadakannya kajian memotivasi kita agar lebih semangat lagi dalam menghadiri majelis ilmu.  

Kajian Muslim 11 Juli 2019

Judul : Manusia-Manusia Pilihan

Assalamualaikum wr. Wbt

Ada berbagai macam bentuk kehidupan di muka bumi ini mulai dari lautan yang terdiri dari berbagai macam spesies hingga langit yang setiap harinya kita pandang dimana terdapat burung burung yang sedang terbang.

Salah satu bentuk kehidupan dimuka bumi ini adalah kita, “Manusia”. Manusia adalah makhluk yang paling mulia dan sempurna yang telah diciptakan oleh tuhan yang maha kuasa sebagaimana yang difirmankan Allah SWT dalam Al-Qur’an

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Terjemahan:

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan

Kesempuranaan manusia itu dapat dilihat dari diberikannya anugrah berupa kemampuan manusia untuk memiliki akal dan berpikir, meskipun demikian masih ada juga manusia yang masih kalah dalam melawan hawa nafsunya sehingga mengesampingkan akal dan pikiran yang telah dianugerahkan kepadanya.  Oleh sebab itu diperlukan upaya upaya untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan agar tidak terjerumus kedalam nafsu duniawi.

Oleh sebab itu Departemen Kerohanian HMTL FT-UH mengadakan suatua Kajian Muslim yang dilaksanakan pada Kamis, 11 Juli 2019 yang bertempat di Sekretariat HMTL FT-UH, materi yang disampaikan pada kegiatan ini berjudul “Manusia-manusia pilihan” dan dibawakan oleh pihak Al-Muhandis. Dalam pemaparannya pemateri mengangkat sebuah kisah sebagai contoh yaitu seorang ulama yang memiliki keteguhan hati dan tingkat kesabaran yang cukup tinggi yang bernama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

Ibnu Taimiyyah adalah seorang ulama yang telah dipenjara sebanyak tujuh kali. Ia dipenjara karena fitnah yang dilemparkan kepadanya akibat kedengkian dan kebencian tanpa alasan terhadapnya. Meskipun demikian Ibnu Taimiyyah tidak seperti kebanyakan orang yang dipenjara dan hanya merenungi nasib tanpa berbuat apa-apa. Didalam penjara Ibnu Taimiyyah mendapatkan banyak pengalaman baru dan telah mewariskan banyak keajaiban dan tulisan-tulisan yang justru mengabadikan namanya dalam sejarah islam. “ Orang yang benar-benar terpenjara adalah yang terpenjara hatinya dari Allah orang yang tertawan adalah yang tertawan oleh hawa nafsunya” -Ibnu Taimiyyah.. Jadi selama dipenjara Ibnu Taimiyyah tidak merasa telah dipenjara secara batin karena ia masih dapat melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya. “Suatu musibah yang membawamu kembali kepada Allah itu lebih baik bagi kamu daripada nikmat yang membuatmu berpaling dari mengingat Allah”. – Ibnu Taimiyah

Semoga dengan kegiatan ini mampu meningkatkan kesadaran kita mengenai kodrat seorang hamba tuhan yang Maha Esa serta meningkatkan minat bagi para muslim dalam menghadiri majelis ilmu

Kajian Muslim 25 Juli 2019

Judul : Pembatal-Pembatal Keislaman

Assalamualaikum wr. Wbt

Islam adalah salah satu agama yang berada di muka bumi ini. Islam jika diartikan berdasarkan makna adalah tunduk dan patuh kepada tuhan yang maha esa, yaitu Allah SWT. Ada yang menyebabkan seseorang dikatakan sebagai seorang muslim, ataupun seorang yang beragama islam. Allah SWT menciptakan sesuatu berpasang pasangan, karena ada yang membuat seorang manusia dikatakan sah dalam beragama islam, maka ada pula yang membuat sesorang dikatan batal dalam keislamannya.

Oleh sebab itu Departemen Kerohanian HMTL FT-UH mengadakan suatua Kajian Muslim yang dilaksanakan pada Kamis, 25 Juli 2019 yang bertempat di Sekretariat HMTL FT-UH, materi yang disampaikan pada kegiatan ini berjudul “Pembatal-pembatal keislaman” dan dibawakan oleh pihak Al-Muhandis.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Terjemahan:

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.

Indonesia adalah negara dengan berbagai budaya dan kegiatan. Banyak masyarakat muslim indonesia yang masih menganut ajaran ajaran nenek moyang mereka, dan masih adapula yang mengkuasakan seseorang sehingga seseorang tersebut mereka anggap memiliki atas sesuatu dan membuat mereka meminta bantua darinya. Misalnya mengatakan “hei fulan, semua ini karena mu sehingga aku dapat sehat kembali” atau “hai fulan, karuniakan lah aku ilmu yang ada di kepalamu itu”. Sebenarnya hal ini adalah salah satu kegiatan ataupun perkataan yang dapat membuat keislaman dari seseorang itu batal.

Orang orang yang membuat perantara antara dirinya dengan allah, yaitu dengan berdo’a, memohon syafaat serta bertawakkal kepada mereka ataupun sesuatu selain Allah SWT. Perbuatan perbuatan tersebut termasuk amalan kekufuran menurut ijma’.

Oleh sebab itu sebagai seorang muslim sebaiknya kita menjaga lisan kita jangan sampai apa yang diucapkan membuat keislaman kita batal dihadapan Allah SWT

Semoga dengan kegiatan ini mampu meningkatkan kesadaran kita mengenai kodrat seorang hamba tuhan yang Maha Esa serta meningkatkan minat bagi para muslim dalam menghadiri majelis ilmu

Kajian Muslim 08 Agustus 2019

Judul : Keutamaan Bulan Zulhijjah

Assalamualaikum wr. Wbt

Setiap orang berjalan bersama dengan waktu, sehingga setiap orang memiliki kegiatan masing masing pada jam ataupun waktu tertentu. Seperti halnya tidur, bekerja, berkumpul bersma keluarga, maupun beristirahat. Begitu pula dengan ibadah, dalam ibadah juga terdapat waktu tertentu seperti salat duhur yang dilaksanakan pada tengah hari maupu salat salat lainnya yang dilaksanakan pada waktu berbeda. Segala sesuatu memiliki waktu khusus, begitu pula dengan bulan pada setahun penuh. Terdapat bulan bulan tertentu seperti bulan muharram dan bulan zulhijjah.

۞ وَوَاعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ۚ وَقَالَ مُوسَىٰ لِأَخِيهِ هَارُونَ اخْلُفْنِي فِي قَوْمِي وَأَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيلَ الْمُفْسِدِينَ

Terjemahan:

Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: “Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan”.

Oleh sebab itu Departemen Kerohanian HMTL FT-UH mengadakan suatua Kajian Muslim yang dilaksanakan pada Kamis, 08 Agustus 2019 yang bertempat di Sekretariat HMTL FT-UH, materi yang disampaikan pada kegiatan ini berjudul “Keutamaan Bulan Zulhijjah” dan dibawakan oleh pihak Al-Muhandis.

Bulan Zulhijjah atau Bulan haji, disebut bulan haji karena orang orang arab biasanye melakukan haji pada bulan tersebut. Ada banyak kegiatan kegiatan yang dapat kita lakukan. Diantara hari hari pada bulan zulhijjah terdapat hari yang dapat melipatgandakan pahala yang sedang dikerjakan. Hari tersebut adalah 10 hari pertama bulan Zulhijjah. Pada sepuluh hari yang pertama ini, kita juga disyariatkan untuk banyak berdzikir kepada Allah SWT, baik itu berupa ucapan takbir, tahmid, maupun tahlil.

Termasuk amal ibadah yang disyariatkan untuk dikerjakan pada hari-hari tersebut –kecuali hari yang kesepuluh– adalah puasa. Apalagi ketika menjumpai hari Arafah, yaitu hari kesembilan di bulan Dzulhijjah, sangat ditekankan bagi kaum muslimin untuk berpuasa yang dikenal dengan istilah puasa Arafah, kecuali bagi jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah. Sebab yang jelas tentang keistimewaan sepuluh hari di bulan Dzulhijjah adalah karena pada hari tersebut merupakan waktu berkumpulnya ibadah-ibadah utama; yaitu shalat, shaum, shadaqah dan haji. Dan itu tidak ada di hari-hari selainnya.”

Allah SWT memberikan muslim yang tidak berhaji kesempatan untuk memperbanyak pahalanya melalui puasa-puasa dan ibadah lainnya pada hari tersebut.

Oleh sebab itu sebagai muslim dan muslimah sebaiknya kita memanfaatkan waktu tersebut sebaik mungkin

Semoga dengan kegiatan ini mampu meningkatkan kesadaran kita mengenai kodrat seorang hamba tuhan yang Maha Esa serta meningkatkan minat bagi para muslim dalam menghadiri majelis ilmu

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *