Perangi Polusi Udara dan Sampah, Ini Solusi Dari Alumni Teknik Lingkungan Unhas

World Environment Day adalah perayaan hari lingkungan hidup sedunia dalam memerangi kerusakan lingkungan dan terus menularkan semua usaha-usaha yang dapat mengurangi kerusakan lingkungan yang ada diseluruh penjuru dunia. Perayaan ini mulai dideklarasikan sejak 5 Juni 1974  dan menjadi sebuah budaya sampai saat ini.

Tahun 2019, World Environment Day bertepatan dengan perayaan hari Raya Idul Fitri bagi mayoritas masyarakat di Indonesia. Dibalik kemenangan dalam perayaan hari Raya Idul Fitri ada hal yang perlu kita semua cermati dan sadari. Tercatat dari berbagai kota besar di Indonesia, produksi sampahnya mengalami kenaikansampai 100%. DLHD Kab. Maros mengungkapkan volume sampah pasca lebaran mengalami peningkatan menjadi 95 ton dari sebelumnya hanya 45 ton, sebagian sampah bersumber dari sampah pasca shalat Ied dan kebanyakan sampah kemasan minuman seperti botol dan gelas plastic, serta kaleng minuman bersoda.

Kanda Uhwan Subhan menuturkan bahwa “Kebiasaan buruk masyarakat perkotaan dan di banyak pedesaan yang masyarakatnya belum sadar akan tanggung jawab terhadap sampah-sampah koran yang berserakan pasca shalat Ied, secara etis persoalannya ialah masalah kesadaran komunal. Indonesia tergolong negara dunia ketiga yang masih kurang kesadaran akan tanggungjawab dalam penggunaan fasilitas atau ruang publik. Tidak seperti negara-negara maju yang mayoritas masyarakatnya sudah paham akan kebersihan fasilitas umum, fasilitas atau ruang publik di Indonesia masih digunakan serampangan oleh masyarakat.”

“Setiap hari-hari besar konsumsi pangan pasti meningkat, untuk kasus hari Raya Idul Fitri, sampah padatan (plastik dan kaleng) mesti disikapi dengan pemilahan dari rumah tangga. Konsep 3R tidak bisa hanya disosialisasikan, namun harus diimplementasikan secara nyata, gerakan ini harus membumi di setiap rumah tangga untuk mengurangi sampah padatan yang berakhir di TPS ataupun TPA” tambah kanda lulusan S1 Teknik Lingkungan Universitas Hasanuddin

“Sejatinya, sebagai individu kita mesti menanamkan kesadaran akan lingkungan dimulai dari diri sendiri, keluarga hingga masyarakat. Perayaan shalat ied idul fitri menjadi momen untuk kita terhadap lingkungan, oleh karenanya setiap sampah yang berada dijangkauan kita setidaknya bisa kita minimalisir agar tidak memberi dampak buruk bagi lingkungan”

Krisis dengan jangkauan umat manusia dan lingkungannya telah dilihat sejak waktu yang lama. Ledakan penduduk, integrasi yang tidak memadai antara teknologi yang amat kuat dengan keperluan lingkungan, serta dibungkamnya ruang terbuka, menjadi ancaman bagi umat manusia dan bumi. Selain masalah-masalah tersebut, tidak kalah menarik untuk dibahas mengenai polusi udara sebagai akibat dari kemacetan lalu lintas yang turut andil dalam mencemari lingkungan sebab volume kesibukan masyarakat kota yang tinggi tidak terlepas dengan pemakaian jalan untuk aktivitas sehari-hari. United Nation mengusungkan tema Beat Air Pollution pada World Environment Day 2019. Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca dari aktivitas manusia, maka akan menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari matahari yang dipancarkan ke bumi, sehingga menyebabkan pemanasan global (global warming).

Menurut Kanda Zarah Arwieny Hanami, kemacetan dapat dijumpai dibeberapa titik tertentu, misalnya pada pusat perbelanjaan dan juga pada arus mudik. Kemacetan yang terjadi menyebabkan polusi udara karena kondisi macet yang membuat kendaraan jalan-diam berpengaruh pada kerja mesin yang tentunya berefek pada emisi yang dikeluarkan,misalnya CO yang dihasilkan akan lebih banyak dikarenakan pembakaran yang tidak sempurna.Selain itu,Kondisi macet juga bisa menyebabkan kemungkinan terpaparnya pengendara dengan emisi kendaraan dalam jangka waktu yang panjang,sehingga resiko penurunan kesehatannya juga semakin tinggi.

“Pas banget! World Environment Day juga mengangkat kampanye #BeatAirPollution. Sektor transportasi memang meiliki sumbangsih yang besar pada pencemaran udara ini dibuktikan oleh data dari KLH 2010 yang menyatakan kendaraan bermotor menyumbang 70% CO, 60% HC,  dan 60%NOx. Dalam konteks ini kemacetan juga memberi sumbangsi terhadap climate change karena dengan keadaan seperti yang saya sudah jelaskan tadi , cara berkendara seseoramg akan beda pastinya akan berpengaruh pada kerja mesin yang selanjutnya pada emisi exhaust, yakni NOx, HC, CO, PM,dsb sehingga dapat menyebabkan keseimbangan atmosfir terganggu”,jelas Kanda Alumni S1 Teknik Lingkungan Universitas Hasanuddin.

Apabila polusi udara dari kemacetan berlangsung terus menerus maka kehidupan yang akan di bumi akan terancam.lalu apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan kehidupan di bumi?

“Bijak menggunakan kendaraan pribadi merupakan salahsatu kunci dari permasalahan ini. Jika bisa dengan public transport atau bahkan berjalan kaki, why not? Bersepeda adalah hal yang keren, kenapa  ga dicoba ? Ya tapi kembali lagi, hal-hal yang saya sebutkan tadi harus diimbangi dengan peningkatan fasilitas yang ada. But facility will be just facility if the activity isn’t cultivated.” tambah kanda yang sementara menjalani pendidikan tingkat S2 Teknik Lingkungan di Institut Teknologi Bandung ini.

“Hidup Eco-Friendly memang butuh banyak pengorbanan tapi akan sebanding dengan what will happen hundred years later” ucap kanda Zarah.

Peningkatan energi terbaharukan juga menjadi jalan yang dapat ditempuh.Apalagi sekarang Indonesia sudah ada target untuk EBT. Misalnya, penggunaan biomassa sebagai sumber energi. Dan terakhir, research is a key

“Jangan pernah berhenti riset dan berinovasi untuk memecahkan masalah lingkungan khususnya kalian sebagai mahasiswa teknik lingkungan.Jangan pernah berpikir konstribusimu kecil di dunia penelitiaan  karena dari penelitian-penelitian kecil yang saling melengkapi akan menghasilkan karya yang besar” Tutupnya.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *