Manusia-Manusia Pilihan

Ada berbagai macam bentuk kehidupan di muka bumi ini mulai dari lautan yang terdiri dari berbagai macam spesies hingga langit yang setiap harinya kita pandang dimana terdapat burung burung yang sedang terbang.

Salahsatu bentuk kehidupan di muka bumi ini adalah kita, “Manusia”. Manusia adalah makhluk yang paling mulia dan sempurna yang telah diciptakan oleh Sang Maha Kuasa sebagaimana yang difirmankan Allah SWT dalam Al-Qur’an

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Terjemahan:

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan

Kesempurnaan manusia itu dapat dilihat dari diberikannya anugrah berupa kemampuan manusia untuk memiliki akal dan berpikir, meskipun demikian masih ada juga manusia yang masih kalah dalam melawan hawa nafsunya sehingga mengesampingkan akal dan pikiran yang telah dianugerahkan kepadanya.  Oleh sebab itu diperlukan upaya upaya untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan agar tidak terjerumus kedalam nafsu duniawi.

Oleh sebab itu Departemen Kerohanian HMTL FT-UH mengadakan suatua Kajian Muslim yang dilaksanakan pada Kamis, 11 Juli 2019 yang bertempat di Sekretariat HMTL FT-UH, materi yang disampaikan pada kegiatan ini berjudul “Manusia-manusia pilihan” dan dibawakan oleh pihak Al-Muhandis. Dalam pemaparannya pemateri mengangkat sebuah kisah sebagai contoh yaitu seorang ulama yang memiliki keteguhan hati dan tingkat kesabaran yang cukup tinggi yang bernama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

Ibnu Taimiyyah adalah seorang ulama yang telah dipenjara sebanyak tujuh kali. Ia dipenjara karena fitnah yang dilemparkan kepadanya akibat kedengkian dan kebencian tanpa alasan terhadapnya. Meskipun demikian Ibnu Taimiyyah tidak seperti kebanyakan orang yang dipenjara dan hanya merenungi nasib tanpa berbuat apa-apa. Didalam penjara Ibnu Taimiyyah mendapatkan banyak pengalaman baru dan telah mewariskan banyak keajaiban dan tulisan-tulisan yang justru mengabadikan namanya dalam sejarah islam. “ Orang yang benar-benar terpenjara adalah yang terpenjara hatinya dari Allah orang yang tertawan adalah yang tertawan oleh hawa nafsunya” -Ibnu Taimiyyah.. Jadi selama dipenjara Ibnu Taimiyyah tidak merasa telah dipenjara secara batin karena ia masih dapat melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya. “Suatu musibah yang membawamu kembali kepada Allah itu lebih baik bagi kamu daripada nikmat yang membuatmu berpaling dari mengingat Allah”. – Ibnu Taimiyah

Semoga dengan kegiatan ini mampu meningkatkan kesadaran kita mengenai kodrat seorang hamba tuhan yang Maha Esa serta meningkatkan minat bagi para muslim dalam menghadiri majelis ilmu

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *